Itulah salah satu di antara mengapa kita paham Rosululloh itu tidak kenal menyerah, tidak mengenal lelah, tidak ada keluh-kesah! Ini penting nih. Pernah ada riwayat tentang Rosul yang mengeluh? “Aduh, Asyiah… Kacau, kacau… repot tuh orang Tho’if. Ya dihajar ajalah…” Nggak ada tuh kata-kata itu. Rosul capek. Pulang ke rumah isteri sudah tidur, pintu dikunci. Tidur di luar. Beres. Tidak ada keluh kesah. Anak beliau meninggal, beliau keluar air mata. Ditanya, “Engkau menangis ya, Rosul?” “Ini air mata sayang” Tapi tidak ada hati tidak terima terhadap takdir Alloh. Makanya, orang-orang yang tauhid-nya bagus, nggak mau keluh-kesah. Mau ngapain mengeluh ke orang?

Begini, kalau lampu lagi mati, trus ada yang memukul, “Wah, siapa nih yang mukul?” sambil marah-marah. Lalu begitu lampu nyala, ternyata yang mukul itu guru atau ustadz kita, eh, malah nyium tangannya. Kenapa? Karena beliau tahu, “Oh, ini guru saya, yang tiap hari ngajarin ilmu, yang tiap hari ngedoain, yang malah ngasih rejeki”. Dipukul oleh orang yang dia hormati, nggak marah. Kita, disentuh sedikit (Oleh Alloh), masa’ kita ngambek sama Alloh? Sedangkan yang menciptakan kita siapa? Yang Ngasih rezeki setiap saat siapa? Kita tinggal di bumi milik siapa? Siang-malam yang ngurus tubuh kita siapa? Yang nutipin aib siapa? Yang ngasih pahala siapa? Masa’ disentuh, kita ngambek? Protes? “Saya nggak terima.” Mau nggak terima gimana? Kita nih milik Alloh, mau sesuka Alloh Digimanain juga. Iya, kan?! Pasti baik kok (maksudnya). Mungkinkah kita adukan perbuatan Alloh ke orang? Berani? Masa’ Alloh disebut ngasih takdir nggak bener, segini rapihnya, ya? (sampai menunjuk wajah). “Masa’ saya ada jerawat dua tahun? (menunjuk ke pipi)” Kenapa jerawat yang dipikir, tetangganya jerawat, hidung, nggak diomongin? Segini komplit, lengkap, beres, ya kan? Pori-pori nggak usah kita urus, diurusnya oleh Alloh. Coba kalau tiap pori-pori harus diurus oleh kita?

Adakah ujian dari Alloh yang tidak diukur oleh Alloh? Alloh sudah tahu keadaan kita? Mungkinkah Alloh Memberi cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya? Alloh Maha Adil, artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Alloh yang Maha Baik, yang selama ini berbuat baik kepada kita, suatu saat Alloh akan membersihkan kita dari dosa, suatu saat Alloh akan mengangkat derajat kita, masa’ kita protes? Pantes, nggak? Jangan… Bulan lalu saya masih dikejar-kejar wartawan  keluar pas keluar dari sini, ya? Tungguin aja, sok… sampai habis omongan dia. Dia nggak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mau caci maki, sok caci maki. Pasti balik kepada yang nulisnya. Nggak akan kena ke kita omongan orang. Yang kena ke kita omongan kita sendiri. Nggak bahaya… yang bahaya itu keburukan kita.

Maka, sodaraku sekalian, sing sibuk dengan dua hal aja dalam hidup ini: Alloh suka, lakukan dan Alloh tidak suka, tinggalkan. “Hayya ‘ala solah…” Kita lagi ngobrol. Apa yang Alloh suka? Terusin ngobrol, atau ke masjid? “Eeeh… mau ke mana, men?” “Maaf, Alloh suka nih kalau saya ke masjid”. Wudhu di rumah atau wudhu di masjid? Di rumah. Jangan pas kebelet baru ke masjid. Sedekah cuma 500, septitank penuh. (jamaah tertawa). Sampai di masjid, langsung duduk nih. Alloh sukanya tahiyatul masjid atau langsung duduk? Tahiyatul masjid… Makanya saya tadi ngumpet dulu. Saya tadi juga milih, kalau saya tahiyatul masjid di sini (di depan jamaah), bisa rusak sholat saya, ya? “Wah, ruku’nya mesti dilamain, nih.” Maka sembunyi sajalah. Lebih aman. Kalau sholat jamaah, khususnya buat laki-laki, deket tiang atau di shaf utama? Maju… walaupun rada males.

Misalnya pas di dalam kabar mandi, kita sedang antri dan setelah ini giliran kita. Lalu di belakang ada orang yang sudah menyilangkan kakinya (tanda kebelet sekali). Artinya, itu emergency. Coba, mana yang Alloh sukai? Kita masuk dan kita puas dia “keberosotan” di sana atau kita menyilahkan dia duluan? Pikir, “Alloh pasti sukanya pasti menolong.” Nggak setiap hari posisi kayak gini. Iya nggak? Ini posisi emergency, siapa tahu suatu saat nanti kita mengalami posisi yang sama. Nggak ada urusan kita dengan dipuji. Urusan kita, Alloh suka, lakukan. Alloh tidak suka, tinggalkan. Kalo ada yang nanya: Kenapa kamu, kok baik banget, ngantrinya kan lama.” Jawab aja, “Alloh pasti suka”. Nggak ada urusan kita dengan dipuji. Urusan kita, Alloh suka: lakukan, Alloh tidak suka: tinggalkan.