Orang yang Perkataannya Ditolong Allah

perkataan ditolong Allah

Berbicara itu mudah, tapi mempertanggungjawabkan pembicaraan tidak mudah. Orang yang mengenal Allah pasti tidak mudah untuk berbicara, karena dia mengetahui setiap pembicaraan itu didengar oleh Allah dan ada pertanggungjawabannya. Orang-orang yang belum yakin kepada Allah, mudah saja untuk berbicara. Apa yang dia pikir ingin dia katakan, akan dia katakan. Walaupun dia berkata tentang Allah, tentang makrifatullah tapi mudah terbaca.
Jelas sekali bahwa keyakinan seseorang akan bisa terukur dari apa yang diucapkan. Teko hanya mengeluarkan isi teko. Jika di dalamnya ada kopi, maka akan keluar kopi. Jika di dalamnya air bening akan keluar air bening. Orang yang khusyuk dalam salatnya itu bisa dilihat dan didengar dari ucapannya.
Ada orang yang berceramah tentang tauhid dan ada yang berceramah tentang makrifat kepada Allah. Tetapi, tidak semua yang berbicara tentang Allah itu ‘diijinkan’ oleh Allah. Maksudnya, perkataannya ini memiliki kemampuan untuk menggugah  hati orang. Allah mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya. Allah mengetahui apa niat seseorang saat berceramah. Apakah niat memamerkan ilmu atau niat ingin diakui orang bahwa dirinya sudah bisa dan sudah tahu.
Ada orang yang berbicara tentang tahajjud seakan-akan dirinya sudah tahajud dengan baik. Padahal Allah mengetahui dia tidak tahajud atau dia tahajjud seadanya saja.  Ada orang yang menyebutkan hadis-hadis, Allah mengetahui tujuannya agar dia diakui orang bahwa ilmu hadis yang dimilikinya hebat dan ilmu al-Qurannya hebat.
Jadi, ada orang yang berbicara tentang agama, tentang allah, tentang al-Quran, tentang Sunnah Rasul, tapi hatinya sebetulnya tidak ada di sana. Hatinya itu adalah ingin diakui orang lain, ingin dipuji, ingin dihormati. Ini adalah kebohongan, dan Allah pasti mengetahui. Akibatnya bicaranya menjadi hampa.
Ada empat ciri orang yang perkataannya akan ditolong oleh Allah. Yang pertama adalah orang yang yakin. Ia akan mengatakan sesuatu karena dia yakin. Jika orang itu yakin, maka perkataannya pasti meyakinkan. Orang yang tidak yakin, perkataannya tidak meyakinkan. Contoh, kita berbicara tentang ka’bah, tentang tawaf. Padahal kita belum pernah tawaf. Pasti akan jadi hampa, walaupun benar ada cerita ka’bah. Orang tidak pernah bisa menceritakan sesuatu yang meyakinkan kalau dia tidak yakin. Ada orang yang berbicara bahwa kita harus bertakwa kepada Allah, kita harus benar-benar patuh kepada Allah, tapi hatinya gamang. Karena dia sendiri tidak yakin kepada Allah.
Kedua, seseorang akan diberi pertolongan  oleh Allah jika orang itu sudah mengamalkan apa yang dia katakan. Jadi Allah mengetahui apakah yang dikatakannya itu sudah diamalkan atau belum. Apabila dia sudah mengamalkannya, Allah akan memberi kekuatan kepada kata-katanya. Tapi jika dia menceritakan yang belum dia amalkan, dia tidak akan diberi kekuatan. Oleh karena itu, lebih sibuk mengamalkan ilmu itu lebih baik daripada menceritakan ilmu. Kita bisa menceritakan ilmu kita kepada orang, jika Allah sudah memberikan waktunya.
Ketiga, orang itu akan diberi kekuatan kalau ia ikhlas. Allah mengetahui isi hatinya, untuk apa dan apa tujuannya ia berbicara. Apabila tidak ada harapan apa pun dari pembicaraannya selain ingin Allah ridha kepada dirinya, Allah mengetahui. Berbicara itu gampang, tapi niatnya yang tidak gampang.
Keempat adalah orang yang bersih hatinya. Bersih secara keseluruhan, tidak ada kesombongan dan tidak merasa lebih dari orang lain. Allah akan memberi kekuatan baik pada saat ia bicara maupun saat ia diam. Kita tidak harus banyak bicara, banyak bahayanya. Berbicaralah kalau memang perlu dan bermanfaat. Jika tidak perlu dan bermanfaat, maka tinggalkan saja. Kita tidak harus memamerkan apa yang kita tahu kalau tidak diperlukan. Tidak gampang untuk belajar merahasiakan. Tapi kalau harus berbicara, berbicaralah dengan lurus.
(KH. Abdullah Gymnastiar, Penasihat dan Pembina DPU Daarut Tauhiid)

 

Baca Juga
April Purwanto, S. A. G
Pak Ustadz, yang kita takutkan adalah membuat "sesuatu yang baru" dalam ibadah mahdah (zakat), karena ...
Baca Juga
Ust Miftah Faridl
Kiai, Apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi suami yang takabur pemarah? Dua kali keluarga ...
Baca Juga
Ust Miftah Faridl
Bagaimana hukumnya berziarah ke makam para wali, bertawasul, berdoa pada Allah di tempat makam wali ...
Baca Juga
Ust Miftah Faridl
Pak Kiai, apa siksa kubur itu dan bagaimana terjadinya?Apakah seperti yang ditayangkan di televisi?Azab kubur ...
Baca Juga
Ust Miftah Faridl
Assalamualaikum Wr WbKiai, katanya orang yang memutus tali silaturahim selama tiga hari tidak akan masuk ...
Baca Juga
Mengapa Anak Tidak Boleh Gemuk ?
Mengapa Anak Tidak Boleh Gemuk?Anak gemuk memang terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, gemukternyata tidak selalu ...
Baca Juga
DonaturNominalWagiman (Bapak)80500Keluarga Abdul Ghofur300000Wagiman (Bapak)150000Aan Kurniyanto1300000Fuad fauzi50000Suryana Arin Taka (Bpk)200000Ismi Susmiyati (Ibu)100000
Baca Juga
Gerakan Sholat Bermanfaat Untuk Kesehatan Tubuh
Sholat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tapi juga gerakan-gerakan salat adalah ...
Baca Juga
DonaturNominalSoccer100000Apotik Optima22700Mitra Komputer626700Hard Rock Burjo231400Jimmylia Vermak Jeans14500Cemilan DEPE290000Novi ( TK Khalifah )75000RM. ...
Baca Juga
kebersamaan santri 2012
Sleman - Suasana santai dan keceriaan mengiringi acara kebersamaan yang diadakan oleh DPU Daarut Tauhiid ...
Baca Juga
Zakat Profesi Bid’ah ? (2)
Suami Pemarah
Hukum berziarah ke makam wali ?
Siksa kubur bagaimana terjadinya?
Memutus Tali Silaturahim
Mengapa Anak Tidak Boleh Gemuk?
Donatur 15 November 2011
Gerakan Sholat Bermanfaat Untuk Kesehatan Tubuh
Donatur 23-24 November 2011
Kebersamaan Keluarga Besar DPUDT Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>