Antara Marah dan Murka

marah dan murka

Oleh KH Tengku Zulkarnain

Salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan ghaizh (marah). Ini disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 134. Dalam tafsir Imam Qurthubi dijelaskan, ghoizh itu artinya hampir mirip dengan ghadhab (marah). Namun, secara rasa bahasa, ghadhab tidaklah sama persis dengan ghaizh. Ghadhab adalah marah yang diwujudkan dengan anggota tubuh seseorang. Orang yang marah dalam pengertian ghadhab, mulutnya akan mengeluarkan kata-kata keji, kadang-kadang tangannya ikut menampar, memukul, atau membanting barang-barang yang ada di sekitarnya, sementara kakinya juga ikut bertindak. Arti yang paling tepat untuk kata ghadhab dalam bahasa Indonesia adalah murka.

Adapun ghaizh adalah marah yang terjadi pada diri seseorang, namun kemarahan itu hanya bergolak di dalam hati dan tidak mewujud pada anggota tubuhnya. Paling-paling wajahnya sedikit memerah atau matanya berkilat. Sementara tangan, kaki, dan lidahnya tidak mengeluarkan tindakan keji dan merugikan orang lain. Arti yang paling tepat untuk kata ghaizh itu adalah marah.

Diceritakan dalam banyak hadis bahwa Rasulullah SAW kalau marah tidak pernah menampakkan wujud pada diri Beliau hal-hal yang menyakiti orang lain atau merendahkan harga diri sendiri. “Pernah suatu hari beberapa orang Yahudi lewat di depan rumah Nabi. Saat itu Nabi sedang bersama Aisyah ra. Orang Yahudi itu memberikan salam dengan ucapan: “Assaamualaik!”(mati kena racunlah kamu). Nabi menjawab: “Alaikum” (Atasmu juga). Serta-merta Aisyah menjawab: “Waalaikum saam wal la’nah” (kamu semua mati kena racun dan kena laknat). Saat itu Nabi menasihati Aisyah bahwa Allah menyukai kasih sayang pada tiap sesuatu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada suatu hari, Maimun bin Mahran ra sedang duduk di rumahnya dan bersiap-siap untuk makan dengan para tamu. Tiba-tiba, budak wanitanya terpeleset dan wajah beliau tersiram kuah sup panas. Serta-merta beliau bangkit dan hendak memukul budaknya itu. Sang budak membaca ayat Alquran: “Orang bertakwa mampu menahan marah”. Maimun menjawab, “Ya, aku menahan marahku.” Kemudian, sang budak melanjutkan ayat tersebut: “Dan memaafkan kesalahan orang”. Maimun menjawab, “Aku memaafkanmu karena Allah.” Kemudian, budak itu menutup ayat tersebut: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. Maka, Maimun berkata, “Aku membebaskanmu karena Allah.”

Allah menegaskan, orang bertakwa itu adalah mereka yang mampu menahan marah. Sementara sekarang ini, banyak di antara manusia yang justru tidak mampu menahan kemurkaan. Dalam perjalanan ke kantor saja, di tengah kemacetan lalu lintas, mulut keluar kata-kata layaknya kebun binatang. Belum lagi tawuran yang merajalela dan sudah hampir menghinggapi seluruh lapisan masyarakat. Semua itu adalah wujud ketidakmampuan menahan murka.

Jika menahan murka yang merusak dan menyakiti orang lain saja belum mampu, bagaimana dapat menahan marah? Padahal, orang bertakwa tidak diminta menahan murka, tetapi justru diminta untuk menahan marah yang jauh lebih sulit melakukannya. Dengan demikian, tampaknya kedudukan kita masih jauh dari level orang bertakwa. Wallahu a’lam.

 

Baca Juga
Birrul Walidain
Birrul Walidian (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. ...
Baca Juga
April Purwanto, S. A. G
Ustadz, kalau zakat profesi gak langsung dizakatkan ke fakir miskin tapi kita transfer melalui bank, ...
Baca Juga
Khaulah Binti Tsa’labah
Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau ...
Baca Juga
MTMQ 27 November 2011 2
Yogyakarta, 27 November 2011 DPU Daarut Tauhiid Yogyakarta mengadakan Kajian Rutin Majelis Ta'lim Manajemen Qolbu ...
Baca Juga
Muslim Super Sehat Alami bsm Prof. Dr. H. Suhardi, M. Sc.
Yogyakarta - Muslim Super Sehat Alami, itulah tema yang diangkat dalam acara Talkshow yang diadakan ...
Baca Juga
April Purwanto
Apabila seseorang telah secara rutin membayar zakat profesi setiap bulan bersamaan dengan diterimanya gaji sebesar ...
Baca Juga
Menjadi apapun kita nanti… Yang penting: kontribusi apa yang akan kita berikan nantinya?
"Menjadi apapun kita nanti… Yang penting: kontribusi apa yang akan kita berikan nantinya? "Beberapa tahun ...
Baca Juga
Ust Miftah Faridl
Kiai, bagaimanakan mencari ketenangan? Saya tahu kewajiban kepada Allah tapi rasanya sulit melaksanakannya, bantu saya ...
Baca Juga
Ust Miftah Faridl
Ada seseorang yang berhutang kepada saya. Ketika saya tagih dia selalu berbohong hingga kesabaran saya ...
Baca Juga
Lolos Test Wawancara Beasiswa Mandiri 2012
Alhamdulillah proses seleksi tertulis, wawancara, baca Al Qur'an sudah selesai dialaksanakan. Berikut ini hasil sementara ...
Baca Juga
Birrul Walidain
Zakat Profesi Untuk Amal
Khaulah Binti Tsa’labah
Sehatkan Tubuh Dengan Pola Hidup Sehat
Muslim Sehat Alami Prof. Dr. H. Suhardi, M.
Sudah Zakat Profesi Masih Wajibkah Zakat Maal?
Menjadi apapun kita nanti…!
Bagaimana Mencari Ketenangan?
Mendoakan Orang Yang Berhutang
Lolos Test Wawancara Beasiswa Mandiri 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>